Berilmu untuk beramal

http://caturrinihistories.blogspot.co.id

Kebersamaan akan melahirkan sebuah kekuatan

caturrinistories@gmail.com

Perjuangan meraih S.Farm

http://caturrinihistories.blogspot.co.id

Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Wednesday, 18 January 2017

(Bisakah) Membangun Generasi yang Cerdas dan Beridentitas?


Apa lagi ini? Diskriminasi bentuk apalagi ini? Mungkin salah satu ekspresi kalimat yang lumrah atas sebuah perubahan baru dan perlakuan yang ‘terlihat’ tak setara atas suatu kedudukan yang ‘terlihat’ sama. Namum semua itu bukan masanya lagi jalan di tempat dan meratap atas sebuah perubahan yang mungkin hanya karena kita belum terbiasa. Kini hanya perlu melangkah walau dengan langkah-langkah kecil agar selalu berjalan dengan raihan-raihan  emas yang tak kasat mata untuk masa depan.
Bagiku ini pemberian sebuah identitas pada seorang anak yang baru terlahir walau ‘sedikit’ terlambat. Mungkin kita bisa melihat ke masa lalu, bukankah dulu saat Gontor Purti berdiri dia tak serta merta mendapatkan dengan kekhasannya yaitu kerudung putih dengan design elegannya? Dia melalui proses trial and errornya. Menurut cerita, dulu mereka pernah menggunakan kerudung berwarna-warni lalu setelah itu hanya warna tertentu yang diperbolehkan hingga akhirnya dia mulai menemukan corak yang menurutnya pas untuk digunakan menjadi sebuah identitas.
Hingga lahir anak perempuan yang baru yang juga lahir dari ibu yang sama dalam tingkat perguruan tingginya dengan gelar ‘full time student’nya. Sistem dan pergerakan yang terus dibentuk serta pencarian sesuatu yang disebut sebagai sebuah identitas atau tanda pengenal terus digali. UNIDA Kampus Putri pun telah melalui apa yang namanya trial and errornya. Menurut pengalaman, saat ditahun pertama kami pernah mendapat kerudung krem namun belum standart namun setelah melalui diskusi panjang akhirnya kami kembali ‘meminjam’ identitas saudara sekandung kami. Setelah itu ada masa dimana kami menunggu identitas kami muncul hingga akhirnya pin berlambang unida pun muncul dan berakhir setelah identitas baru kami lahir.
Banyak pertanyaan yang muncul, kenapa mereka tidak berganti juga? Apa identitas mereka yang jau disana dengan gelar sama yang disandangnya dengan kami? Aku mencari-cari dan bertanya pada diri sendiri banyak sangkalan dan pembetulan yang muncul dan berkecamuk bahkan hingga masuk ke dalam mimpi (hahaha maaf alay tapi nyata). Jawaban-jawaban yang mungkin terkadang terlihat mengada-ada, jawaban dari karena mereka masih terikat sampai pada tempat main yang berbeda muncul ada ‘dugaan’ atas jawaban.
Namun sudahlah terlalu indah kehidupan ini bila dilihat ‘hanya’ dalam satu sisi saja. Kini kita sudah beridentitas, lalu bisakah kita menjadi generasi yang cerdas? Ini bukan tentang angkatan tapi ini tentang apa yang akan kita sandang dan labelkan pada kehidupan kampus kita. Jika kita ingin menjadi sebuah kebanggaan maka kita harus bisa membangun kebiasaan/adat yang baik, mengatur seluruh langkah kita dan meminimalisir adat yang buruk dengan mengadakan kegiatan bersifat kebersamaan agar seluruhnya dalam rel yang sama dan untuk meminimalisir orang-orang yang keluar rel. Kita hidup dalam suatu rumah yang setiap harinya ada kereta lewat namun kita akan tetap tidur dengan tenang walau kereta lewat karena kita tahu kereta itu ada lintasannya.  

Maka jangan sampai menjadi generasi yang turun kualitasnya karena pola pikir pragmatis. Jangan menjadi generasi suka mengeluh yang selalu merasa paling terjatuh. Jangan jadi generasi yang bertindak tanpa sebuah analisa. Bila ada yang menjatuhkan maka bangkitlah. Bila ada yang mencela cernalah dan analisalah pasti akan membuat kita lebih dewasa dalam berpikir. Bukankah seorang mahasiswi itu belajar dalam taraf analisa? Bukankah seorang mahasiswi itu bisa menjabarkan yang pendek dan meringkas yang panjang? Maka jika mereka tak menjelaskan maka cari jawaban dalam diri atau sekitar karena pasti ada jawabnnya dalam diri dan sekitar kita namun terkadang kita pura-pura tak mengenal saat jawaban itu bertandang. Maka jadilah mahasiswi yang terus berkarya dan meneliti karena dengan meneliti, lahirlah karya pengabdian, dan bermunculanlah tunas tunas baru ilmu pengetahuan dan maka jadilah ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama. Serta ingat setiap pundak kita, kita membawaa nama kita, almamater, bangsa dan agama kita.
#wallahua'lambishowab#ussikumwaiyyayanafsi

Monday, 2 January 2017

Kenapa? (Menelaah kembali 1)

Dalam dunia ku dan dunia mu yang bernama dunia pesantren mungkin terdapat banyak hal yang tak dapat terdefinisikan dan sulit untuk diterjemahkan. Karena kalangan yang pernah menginjak dunia pesantren saja terkadang masih minim pemahaman apalagi untuk kalangan umum. Namun begitulah dunia kita, penuh dengan hikmah yang tak kasat mata. Melihat dari hal kecil dan pertama kali aku selalu pertanyakan saat menginjak dunia itu di instansi tertentu. Terkadang aku sendiri bertanya, kenapa kata ‘keadilan’ tidak ada dalam sintesa pondok? Kenapa dia tidak ada di dalam panca jiwa? Lalu kalau kita mau memandang lebih luas lagi, kenapa dalam pancasila keadilan dinomor akhirkan, kenapa tidak ditengah atau dinomor awal? Banyak pertanyaan yang muncul dan itu semua pernah muncul dalam benakku sendiri karena saat itu aku belum memiliki kapasitas untuk memahami, aku masih belum bisa tuk mengerti dan pasti saat itu tak mengetahui proses yang telah dijalani untuk mencapai pada titik itu. Aku disaat itu hanya seorang yang buta, hanya bermodal lilin kecil yang mungkin saja lilin kecil itu bisa membakar diriku sendiri sewaktu-waktu. Aku disaat itu hanya seorang yang memiliki pemikiran praktis dan realistis dengan zaman yang pernah aku jalani. Namun akhirnya jawaban itu datang saat Pekan Perkenalan Khutbat-l-‘Arsy yang ada di setiap awal tahun.
Saat aku menginjak bangku perkuliahan saat ada orang yang bertanya dengan yang sama atas apa yang aku pertanyakan dulu, tiba-tiba teringat kalimat,” Quis custodiet ipsos custodes? siapa yang mengawasi pengawas?” dari novel Digital Fotress yang pertama kali aku baca saat duduk dibangku sekolah menengah. Ternyata bermakna dalam dan dapat menimbulkan berbagai pertanyaan bagi beberapa orang yang belum memahami maknanya tapi aku tak menyalahkan orang yang belum paham itu. Dilema memang mengingat kalimat bahwa tak ada manusia yang sempurna. Namun semua itu kembali pada kesadaran setiap manusia karena hidup layaknya mengayuh sepeda kalau kita berhenti maka akan jatuh. Semua manusia memiliki pertanggungjawaban kehidupan dan memiliki catatan baik-buruk, hitam-putih dan sebagainya. Lantas sampai kapan dan bagaimana seorang pengawas harus diawasi? Tentunya seorang pengawas diawasi dengan aturan Allah sang pemilik alam ini yang Maha Adil.
Lalu bagaimana saat kita ingin melihat keadilan yang nyata? Mari kita menelaah kembali apa makna adil itu sendiri (lihat http://caturrinihistories.blogspot.co.id/2016/03/mencoba-mencari-makna-adil.html)
Lalu saat kita sudah mengetahui makna adil (baca:hak) lantas sudah sejauh manakah kita menjalankan kewajiban?  Lantas saat kita sudah mulai bertanya, apakah orang lain telah melakukan hal yang sama, apakah kita sudah bertanya pada diri kita kebaikan yang kita lakukan sebenarnya untuk siapa? Untuk orang lainkah atau untuk diri sendirikah atau mungkin untuk kepentingan bersama? Lantas apakah harus menunggu sempurna untuk mengingatkan sesama? apakah orang yang mempunyai banyak dosa, lantas gugur sudah kewajibannya untuk menasehati orang? Insya' Allah tidak karena mengingkatkan sesama adalah kewajiban dari setiap saudara seiman.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).


Kita mungkin pernah mengalami fase merasa paling sengsara yang mana hingga terkadang kita lupa bersyukur dan hanya melihat kehidupan dari satu sisi saja. Padahal dunia ini terlalu indah untuk hanya dilihat dari satu sisi. Maka saudariku sebaiknya kita mulailah berhati-hati dalam menerka sebuah kalimat. Mulailah menganalisa dan bertanya pada hati kecil kita agar kita tak tersesat karena ego yang menguasai akal sehat dan nafsu belaka. Mungkin kesadaran perlu dihidupkan karena ada hal yang dilakukan demi maslahah (kebersamaan) yang mana sebuah maslahah itu adalah hal yang sangat mahal dan tak terbeli.

Wednesday, 16 March 2016

Mencoba Mencari Makna Adil

Lebaran itu.. moment yang selalu aku tunggu. Moment yang semua keluarga berkumpul, safari ke tempat tetangga bareng-bareng. Hampir lengkap semuanya  kecuali satu, kakak laki-laki ku yang dulu hobinya tidur diwaktu yang tidak tepat tapi untunglah sekarang sudah sembuh dia dan aku lebih suka dia yang sekarang.
Beberapa tahun yang lalu, mungkin saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku menemukan satu pelajaran yang ‘selalu’ tersirat dalam keluargaku. Saat tetangga yang juga saudara (ah sepertinya semua tetanggaku masih terhitung saudara dengan silsilah dan tingkatan masing) memberiku uang kertas bergambar Soekarno-Hatta sambil berkata “dibagi sama kakaknya ya” dan aku hanya iya iya saja.
Saat di jalan aku membuka percakapan
A: “mbak aku dapet uang 100 tadi ntar separo-separo ya biar adil”.
K: “adil itu berapa-berapa berarti?”
A: “50 50 lah berarti”
K: “ gak adillah”
A: “lah yang namanya adil itu harus sama kan?”
K: “ hahah, sepertinya kurang tepat kalo definisi adil itu sama, adil itu sesuai dengan kebutuhan. Sekarang kebutuhan yang gede sama yang kecil banyakkan mana? Yang gede kan? jadi ibaratnya pembagian itu adilnya 70 30 lah”
Aku hanya diam gak punya kata. Padahal biasanya gak abis akal aku buat ngejawab omongan siapapun yang menurutku kurang tepat atau kurang masuk akal bagiku. Tapi saat itu aku hanya diam dan selalu aku merenungi dan menelisik kata yang terlontar karena pasti ada maksud tersiratnya. Sudah terlalu biasa mengais sendiri hikmah dalam sebuah kalimat karena mungkin memang tak ada moment yang dimana kita duduk bersama secara lengkap dan mengobrolkan hal-hal yang terkadang sering dibahas tetang keluarga seperti tempat sekolah lanjutan, keadaan sekolah atau lingkungan dan lainnya. Orang tua selau menyerahkan penuh pada anak-anaknya dengan meninggalkan beberapa saran untuk masuk kedalam kategori layak direnungi.
Hingga aku kini kembali kedalam definisi adil yang selalu menjadi sesuatu kata dengan seribu makna tak ada yang tahu pasti. Tapi lumayan masuk akal bagiku walau mungkin kisah itu akan membuat orang mengernyit dan berkata “ah itu akal-akalan seorang kakak kepada adiknya. Namun kini aku sedikit menerka, bila definisi adil itu harus sama, maka mungkin Tuhan tak adil karena manusia tidak semua bahagia, tidak semua manusia kaya, tidak semua manusia pintar.
Karena hasil terka dan pertapaan makna ‘adil’ itu. Bahwa semua ada kadarnya tapi mungkin perlu catatan bila kita berbincang soal hukum khususnya agama karena kadar mereka telah ada dan tertulis jelas dalam setiap buku panduan kehidupan.

 #wallahu'alambishowab

Sunday, 3 January 2016

Anak Asrama, ½ Asrama-Kost dan Kost (Versi Cewek)



Tiga tipe anak kuliahan yang ada di Indonesia sekarang ini, mereka memiliki gelar yang sama ‘Mahasiswa’ tapi gaya hidup mereka beragam sesuai dengan gelar yang disandang oleh mereka ada yang anak asrama, ½ Asrama-Kost dan Kost. Banyak keunikan dan cerita masing-masing dari ketiga tipe ini yang bukan cuman saya yang menyadari itu bahkan yang lain pun telah menyadarinya mungkin lebih dulu dari saya. Tiga tipe yang mungkin berbeda tapi mungkin juga sama.

Anak asrama dan ½ asrama-kost yang hidup dalam sebuah lingkungan asrama yang ada peraturannya membuat mereka mau tidak mau harus mengikuti aturan main asrama dan para pengurusnya. Hingga kadang kata ‘suka banget ngurus hidup orang’ itu terlontar untuk sang kakak yang mau menyisihkan waktu dan fikirannya walau barang sebentar untuk memikirkan kebaikan mereka. Sebenarnya sih para kakak itu tak terlalu banyak harapan hanya satu keinginan untuk kemaslahatan bersama, yaitu peraturan yang ada berjalan dengan ritme yang seimbang untuk bersama sehingga kehidupan yang ada dalam asrama akan lebih damai dalam kebersamaan bila mungkin dibandingkan dengan anak kost yang mungkin mereka bisa hidup sendiri tanpa ada senggolan yang berarti dari teman yang berinteraksi selama 24 jam dengannya. Tapi walau anak asrama dan ½ asrama kost ini sama-sama tinggal di asrama, namun peraturan dalam hal keluar asrama mereka masih berbeda. Anak asrama ingin kemana saja mereka harus melakukan ritul yang namanya izin ke pengurus yang berwenang sedang untuk anak ½ asrama-kost mereka ingin kemana saja silahkan asal pada waktu yang ditentukan mereka ada di asrama. Nah beda lagi kalau dengan anak kost yang apalagi kostannya tak pakai ibu kost. Maka saat itu hanya hati yang bisa mengukur kapan jam mereka pulang ke persinggahan.

Beda lagi kalau soal makan, diantara ketiganya ini mempunyai level kesulitan masing-masing untuk mendapatkan si putih berkarbohidrat ini. Kalau anak asrama sih sudah terhidang di atas meja dengan efek berkilau-kilau hasil karya si mbok e. Bahkan baru buka mata aja sudah bisa langsung santap. Tapi tetap dengan sedikit perjuangan yaitu jalan dari kamar ke tempat makan. Hal ini bisa saja anugerah terindah sebagai anak rantau tapi juga mungkin musibah karena akhirnya lebih banyak dari mereka yang notabene sebagai anak rantau tak bisa dalam hal masak memasak. Level kesulitan anak ½ asrama-kost untuk mendapat si putih berkarbohidrat adalah dia harus berjalan ke kantin asrama, memesan makanan lalu ngerogoh kocek untuk bayar makanan yang di pesan tadi. Sebenarnya hampir sama dengan anak asrama, tapi kalau anak asrama makan untuk setiap harinya sudah di bayar per bulan hingga uang yang ada dalam saku itu hanya jatah uang jajan dan uang printer. Kalau anak kost apalagi kostannya tidak ditemukan warung terdekat, terkadang sarapan saja bisa dijamak dengan makan siang dan disesuaikan dengan jadwal kuliah jadi bisa sekalian kuliah dan makan. Salut dengan anak kost yang bisa hemat-hemat dalam makan dan jajan. Pemikiran yang sangat ekonomis walau terkadang ada yang sampai harus lipat perut untuk itu.

Kalau masalah barang-barang jang ditanya lagi untuk anak asrama dan ½ asrama-kost. Kita tak punya suatu barang yang ‘kadang-kadang’ kita butuh, it’s ok masih ada teman samping lemari yang siap membantu. Tapi bukan maksud untuk memanfaatkan barang punya temen yang ada. Hanya menggunakan yang ada bersama dengan tanggungjawab pastinya. Beda lagi kalau anak kost, terkadang harus punya sendiri dengan barang yang kita butuhkan, teman samping kamar terkadang tak banyak membantu karena mempunyai kesibukan yang lain karena mungkin teman samping kamar bukan teman satu perguruan tinggi.

Apapun tipe kita sebagai mahasiswa dan dimanapun kita menuntut ilmu semuanya pasti memiliki kelebihan ada kekurangan yang kadang terungkap dan kadang banyak yang tak terungkap. Hanya satu yang pasti yaitu mensyukuri apa yang telah diberikan oleh-Nya. Bukan hanya saat kita sedang bahagia tapi juga saat kita dalam kesulitan. Karena Dia selalu ada untuk hamba-Nya kapanpun itu saat seorang hamba membutuhkan.




Tuesday, 11 August 2015

Mahasantri

Mahasiswa adalah gelar elite yang ada dalam sosio-kultural yang ada di masyarakat. Dengan kata ‘Maha’ sesungguhnya dia telah ‘meminjam’ sebagian nama Tuhan. Dengan berbagai pelajaran yang di anggap oleh masyarakat yaitu sebagai ilmu langit yang belum diterjemahkan dalam masyarakat yang dimana seharusnya pemikiran seorang mahasiswa ini bukanlah pikiran hanya biasa-biasa saja. Karena mereka telah menjadi salah satu mutiara ilmu untuk Indonesia.
Dengan semakin berjalannya waktu kini juga berkembang istilah baru bagi para calon  mutiara ini, yaitu istilah ‘Mahasantri’. Lalu apa itu mahasantri? Mahasantri adalah seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah seperti biasanya namun dia juga tinggal di satu asrama dengan peraturan yang ada dan berdasarkan atas agama islam yang kuat. Mungkin hampir sama namun seorang mahasantri ini sesuatu hal yang istimewa apalagi di zaman sekarang ini dengan adanya berbagai pilihan atas kegermelapan dunia. Sehingga seseorang yang memilih atau yang dipilih menjadi mahasantri adalah mutiara islam yang siap untuk menegakkan agamaNya dimanapun mereka berpijak.
Seorang mahasantri harus mempunyai pola pikir yang lebih sistematis dibandingkan sebelumnya karena mereka tak lagi berada di bangku sekolah menengah ataupun KMI. Dengan aktif dalam berorganisasi, kegiatan non akademik seperti ikut serta dalam UKM yang ada di kampus. Mereka dapat mengembangkan olah pikir, olah dzikir, olah raga dan olah rasa mereka yang ditambah dengan adanya sistem asrama membuat mereka lebih leluasa dalam waktu untuk pelaksanaan seluruh kegiatan yang ada.
Dan kelebihan lain dari seorang mahasantri adalah dengan adanya peraturan asrama yang bertujuan tidak untuk mengekang mereka sehingga mereka dapat hidup dalam ritme yang indah dalam suasana islami. Ibaratnya seperti mawar yang berduri, dia indah karena ada durinya. Maka sama saja saat seorang mahasantri mentaati peraturan karena peraturan itu yang memperindah para mahasantri untuk kehidupan mereka. Serta disisi lain memberikan ketenangan terhadap para wali mahasantri ini atas jihad mereka dalam tholabul ilmi di tingkat perguruan tinggi.

Maka dari itu selayaknya jika kita menjadi seorang mahasantri suatu hal wajib kita syukuri karena kelebihan-kelebihannya yang terkadang tak dapat terdefinisikan. Yang dimana belum tentu orang biasa rasakan karena seorang mahasantri itu mutiara yang paling indah diantara mutiara. Masa yang indah itu masa saat kita menuntut ilmu apalagi saat itu kita merasakannya di Gontor. 

Thursday, 28 May 2015

Bersama Untuk Bangsa

Masih pantaskah kita sebagai generasi bangsa tidak keras terhadap diri kita? bukankah hidup ini tak hanya bercerita tentang keindahan dan kegermelapannya?  Miris, mungkin itu yang sedang dialami oleh bangsa kita yang tercinta ini. Ditengah semaraknya berita tentang beras plastik, susu detergen dan yang lainnya. Ada satu lagi berita yang tak bisa kita lupakan. Apalagi kalau bukan tentang pengumuman kelulusan entah itu tingkat SMA, SMP dan SD. Mungkin tak semua yang melakukan beberapa keadaan yang memalukan tapi seperti pepatah lama berkata karena nila setitik rusak susu sebelanga. Entah ini kagum, takjub atau bagaimana, saat melihat foto-foto para pemuda dengan seragamnya yang penuh dengan coretan seni itu. Mungkin itu sudah biasa ditingkat SMA atau SMP tapi kalau masih ditingkat SD? Mungkin sekarang ada dari mereka yang harus dewasa sebelum waktunya. Karena bila tidak seperti mereka akan dikatai kudet,katrok atau sejenisnya. Bukan hanya sampai disitu, sekarang juga marak yang namanya jones yah tau sendirilah itu apaan. Hal yang aneh memang saat anak sekarang tak punya pacar malah dikatain. Bukankah itu hal yang wajar? wajar bagi umuran seorang penimba ilmu.
Mungkin zaman memang telah menemui masa keemasannya dengan penuh kecanggihannya. Tapi jika kita terus hanya menjadi penikmat atas semua teknologi itu maka kapan kita akan maju? sedang bila ada karya anak bangsa terkadang mendapat cibiran. Lalu apakah kita hanya akan menunggu sistem yang sedang mencari arah tanpa bisa berbuat apa-apa? bukankah perbaikan bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah, tapi kita semuanya dengan perannya masing-masing.
pembangunan bangsa tak akan bersahil bila hanya satu peran yang memainkan tanpa ada yang membantu. maka dari itu kita harus saling bahu-mambahu untuk generasi kita, sebagai generasi pembelajar yang memiliki integritas yang mumpuni.

"Jika pengajaran adalah transfer pengetahuan, pendidikan harus menumbukan kesadaran mengaktifkan pikiran secara merdeka agar kretifitas tumbuh dengan leluasa karena pengekangan hanya melahirkan pembungkaman dan kemandiran disalah arti dengan ketundukan. Generasi pembelajar adalah generasi yang tak saja mendapat pengetahuan namun juga pemahaman, generasi ini lebih baik belajar mengerti agar lebih bijak pula memahami, menjadi pribadi dengan pikiran penuh keterbukaan bukan penghafal diktat yang sekedar taat, terus belajar dan mencari selagi muda tidak hanya ikut dengan cuma-cuma dan tanpa bertanya, jangan takut salah dan berbuat alpa sebab dari situ para pembelajar bisa dewasa, karena hidup adalah rangkaian tanya demi tanya dan generasi pembelajar selalu berusaha mencari jawabannya"


Monday, 19 January 2015

Buah Simalakama Dunia Pendidikan Indonesia



Tuntutlah ilmu sampai negri cina,mungkin itu pepatah kuno yang telah mulai menjamur di telinga masyarakat. Tak sedikit dari mereka yang menafsirkannya dengan salah. Kini sekolah jauh dari rumah sudah menjadi tren dalam kalangan masyarakat. Tak sedikit saat mereka ditanya alasan mereka untuk tidak sekolah di daerah asalnya salah satunya alasan yang sangat kompleks yaitu karena tak ada sekolah yang berkualitas di tempatnya atau mungkin alasan yang agak mengada-ada yaitu ‘gengsi’ bila tak sekolah jauh dari rumah. Mungkin mereka berhak mempunyai alasan yang menurut mereka benar tapi parahnya dari suatu kenyataan yang bangsa kita alami adalah tak sedikit dari instansi pendidikan yang memiliki mutu yang terbaik adalah instansi yang di kelola oleh swasta atau cabang sekolah milik luar negri.
Sungguh tragis realita keadaan dunia pendidikan Indonesia dan pemikiran-pemikiran autis yang berkembang di kalangan masyarat kita. Disisi lain perkembangan mutu sekolah-sekolah yang ada di indonesia belum menemukan titik terang hingga saat ini walau telah mengalami perubahan-perubahan kurikulum yang sering dilakukan dengan seiring bergantinya pemerintahan. Herliyati menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka dalam pendidikan dikenal beberapa masa pemberlakuan kurikulum yaitu kurikulum sederhana (1947-1964), pembaharuan kurikulum (1968 dan 1975), kurikulum berbasis keterampilan proses (1984 dan 1994), kurikulum berbasis kompetensi (2004 dan 2006), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dan yang terakhir  adalah Kurikulum 2013. Menurut Einser (Bafadal, 2007), Ada lima fungsi evaluasi pendidikan Mendiagnosis, merevisi kurikulum, membandingkan, mengantisipasi kebutuhan pendidikan, dan menentukan apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai. Jadi perevisian kurikulum yang dilakukan untuk mencari standart mutu pendidikan yang layak katanya.
Padahal kurikulum sekolah yang baik dapat menjadi latar belakang pendidikan yang baik pula bagi anak bangsa karena seseorang yang menuntut ilmu diwaktu kecil seperti mengukir di atas batu sedang saat ia mencari ilmu diwaktu besar bagai mengukir di atas air. Sehingga bagi sebagian orang tua yang ingin pendidikan terbaik bagi putranya harus mengirim para  anak bangsa yang berpotensi lebih untuk berhijrah ke negri orang demi mendapat ilmu yang di harapkan dan ironisnya tak sedikit dari mereka yang ‘kecantol’ di negri orang bak kacang lupa kulitnya karena penghargaan lebih yang mereka dapatkan ataupun karena saat dia kembali masyarakat pun enggan mengakui keahliannya hingga akhirnya mereka kembali ke negri orang lagi. Telah banyak cendekiawan yang mengalami seperti itu misalnya mantan presiden RI ke-dua yang tak diterima terlalu baik saat sekembalinya beliau dari jerman padahal negeri tempat beliau berhijrah yaitu pemerintah Jerman sangat menghargai apa yang beliau lakukan dengan kemampuannya di bidang teknologi.
Memang ini semua telah menjadi dilema anak bangsa kita hingga saat ini. Disatu sisi mutu pendidikan dini yang belum bisa menjadi pondasi terbaik hingga harus berpikir jika mereka tetap berdiam di tempat terlalu lama tanpa merubah sistem untuk menjadi sistem yang mumpuni bagi bursa kerja dunia layaknya air yang menggenang lama di suatu kubangan hingga rasanyapun menjadi tidak baik seperti dalam kata-kata mutiara arab ‘innii raaytu wuquufa-l-maaiyufsiduhu# in saala thoba wa in lam yajri lam yatib’ dan disisi lain saat mereka berhijrah entah ke negri nan jauh disana untuk belajar, walau mungkin dengan niatan untuk kembali dan membangun negara. Pengakuan itupun tak kunjung datang bila menggunakan politik bersih tanpa uang dan koneksi yang berbicara.
Entah kapan negri kita akan menemukan masa keemasannya di dalam dunia pendidikan. Kita sebagai pelajar tiang negara harus mulai memikirkan semua itu sedini mungkin agar saat kita berada di posisi mereka yang berkuasa nanti dapat memperbaiki dan membangun negri ini menjadi lebih baik lagi. Harapan itu masih ada selama kita masih mengusahakan harapan-harapan itu terwujud.

Pemeran Di Balik Layar



Tanggal 2 mei adalah hari pendidikan untuk negeri kita tercinta Indonesia. Tapi tetap saja kita masih memiliki tugas yang hingga kini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan kita tercinta. Apalagi kalau bukan kualitas pendidikan yang di bawah rata-rata. Penyebab utama masih terpuruknya dunia pendidikan Indonesia adalah karena terlalu berorientasi terhadap kurikulum yang notabene selalu berganti setiap mentri pendidikannya pun berganti. Percobaan  berbagai model kurikulumpun telah dilaksanakan, dari kurikulum sederhana, kurikulum berbasis kompetensi hingga kurikulum yang kini dipakai yaitu kurikulum 2013 yang lagi-lagi belum menemukan arahnya. Padahal kurikulum atau kualitas pendidikan yang baik adalah sebagai salah satu kunci untuk kemajuan pemikiran para penerus bangsa untuk negara Indonesia yang lebih baik.
Sedang keadaan yang selangkah lebih maju telah dilakukan oleh lembaga pendidikan yang dikelola oleh swasta. Karena mereka mempunyai cara tersendiri untuk memberikan perbaikan pendidikan. Berbagai bentuk lembaga pendidikan yang dikelola swasta adalah Sekolah Dasar Islam hingga  sekolah berbasis Boarding school atau pondok kini lebih diminati oleh para orang tua untuk pendidikan para buah hati mereka terlebih pendidikan bersistem asrama lebih mewarnai dunia pendidikan Indonesia kini.
Gontor, adalah salah jenjang pendidikan yang menerapkan sistem asrama yang memadukan antara sistem pendidikan berbentuk salafiyah dan modern. Dengan membentuk para santrinya dengan disiplin ilmu dan pendidkan serta pendidkan aqidah dan akhlak yang terpuji. Tidak hanya itu Gontor juga menekankan terhadap para santri tentang keikhlasan yang tak dapat dibeli untuk berjihad di jalan Allah.
Model pendidikan Gontor mengedepankan  ‘at tarbiyah ahammu minat ta’lim’ yaitu pendidikan lebih penting dari pada pengajaran maksudnya adalah segala sesuatu yang ada di Gontor mengandung pendidikan dari apa yang kita dengar, lihat dan rasakan adalah pendidikan.
Kiprah Gontor Putri dimulai pada tahun 1990an guna memenuhi desakan masyarakat yang menginginkan adanya Gontor untuk para putri mereka. Kini diumurnya yang mulai mencapai seperempat abad. Gontor putri seperti yang sering diungkapakan oleh Al-Ustad Ahmad Hidayatullah Zarkasyi,MA adalah “Gontor Putri banyak memberi perubahan bagi Indonesia ini dengan melahirkan para pejuang, memberikan pendamping untuk para pejuang dan ibu para pejuang.” Yang di maksud dalam ungkapan tersebut adalah yang pertama menjadi pejuang, para alumni Gontor putri siap dan bisa untuk berada di garis depan dalam perjuangan untuk mengibarkan panji-panji islam bila memang kesempatan itu ada. Yang kedua menjadi pendamping pejuang, para alumnya bisa menjadi pembakar penyemangat bagi pejuang yang berada di garis depan karena dibelakang laki-laki yang sukses pasti ada wanita yang hebat di belakangnya. Yang ketiga  yaitu ibu bagi para pejuang, saat mereka tak bisa menjadi pejuang atau menjadi pendamping pejuang namun mereka siap untuk melahirkan para pejuang dengan pembentukan pendidikan  anak yang mumpuni. Bukan apa adanya, karena pendidikan yanga awal atau dini adalah dari rumah. Bila latar pendidikan yang di berikan dari rumah atau dari orang khususnya dapat dijadikan bekal untuk lika-liku perjalanan hidup sang anak maka dia akan menjadi seorang yang tahan banting terhadap segala keadaan yang mulai tak karuan.
Memang mungkin kebehasilan untuk para santrinya dapat dilihat dengan mata telanjang seperti ketua PP Muhammadiyah, ketua PBNU, mantan mentri agama dan yang lainnya mereka semua adalah sebagian kecil contoh dari jebolan Gontor Putra yang ada di Ponorogo. Namun para santriwati jebolan Gontor Putripun tetap berkiprah dalam mendidik kehidupan peradaban ini melalui jalan yang lain walau tak terlihat dengan kasat mata namun semua itu tetap diperlukan karena mereka ada untuk menjadi pelengkap kesempurnaan bukan untuk menjadi yang sempurna.

Kursi Emas Presiden Harapan



Era baru untuk bangsa Indonesia telah tiba, dengan dilantiknya presiden dan wakil presiden terpilih yaitu Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada tanggal 20 oktober 2014 yang lalu untuk menggantikan presiden yang telah menjabat selama dua kali masa jabatan kepresidenan yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan bergulirnya kursi kepemimpinan yang baru rakyatpun kini banyak menaruh harapan-harapan baru atas perbaikan bangsa Indonesia untuk ke depannya. Karena dengan keadaan ekonomi Indonesia yang semakin menurun terutama dengan turunnya nilai rupiah terhadap dolar hingga hampr dua belas ribu rupiah perdolar Amerika yang sedang terjadi saat ini. Semua itu berimbas kepada ekonomi Indonesia yang semakin berantakan tak karuan. Misalnya salah satu akibat yang terjadi adalah dengan naiknya harga barang elektronik di Indonesia yang dapat mengakibatkan keterbelakangan teknologi atau gaptek (gagap teknologi) khusunya pada masyarakat kalangan menengah ke bawah. Sedang di sisi lain para pengusaha ICT atau Industri Kreatif Teknologi Indonesia berharap agar anjungan bunga bank yang dibebankan kepada mereka mendapatkan keringanan untuk perkembangan usaha mereka dapat berkembang lebih baik dengan bergantinya pemimpin ini. Mereka mengeluhkan sulitnya peminjaman modal kepada pihak bank karena pihak bank menuntut jaminan yang nyata terhadap mereka yang dimana bisnis Industri Kreatif Teknologi sendiri saat ini masih dalam tahap pengembangan.
Terlebih dengan perseteruan politik yang terjadi sebelum pelantikan dilaksanakan diantara dua kubu yaitu kubu Joko Widodo dengan koalisi rampingnya dan Prabowo Subianto dengan koalisi merah putih yang tak habisnya-habisnya menghiasi layar kaca Indonesia sehingga terjadi kejenuhan yang berkepanjangan di kalangan masyarakat. Tak ayal sebagian rakyat Indonesia memiliki pikiran apatis atas masa depan bangsa ini. Namun di sisi lain tak sedikit juga yang masih berharap atas pemerintahan yang baru lahir ini. Penantian rakyat terhadap kabinet Trisakti yang diharapkanpun masih ditunggu walaupun belum kunjung di umumkan karena Joko Widodo dan Jusuf Kalla melibatkan KPK dalam pemilihan Mentrinya. Tapi ada beberapa mentri yang menurut Joko Widodo tidak perlu mengikuti uji kelayakan dengan datang ke Istana Negara “cukup telfon dan meminta kesediaannya saja” kata Joko Widodo saat diwawancarai semua itu dikarenakan dia tlah lama mengenal mereka dan etos kerja yang mereka miliki.
Harapan-harapan itu bak air yang mengalir dengan berbagai cara pengungkapan yang terjadi di media sosial seperti twitter. Seperti halnya kemarin pelantikan Joko Widodo telah menjadi hot topik di jejaring sosial ini. Hingga sekitar 1000 kicauan berisi tentang harapan kepada Joko Widodo dan ucapan terimakasih terhadap presiden Susilo Bambang Yudhoyonopun telah dikicaukan oleh warga negara Indonesia. Beberapa harapan yang terungkapkan antara lain perbaikan ekonomi baik untuk kalangan menengah ke bawah atau pun untuk ekonomi  perindustrian yang mengalami kemerosotan sehingga terjadi PHK masal seperti pada pabrik rokok PT HM Sampoerna, rencananya mereka akan memberhentikan para pegawainya hingga kurang lebih 4900 karyawan. Semua ini dikarenakan ketidak stabilan keuangan perusahaan akibat menurunnya minat para konsumen terhadap konsumsi rokok Sigaret Kretek Tangan atau SKT. Adapun faktor Penurunan yang terjadi pada konsumen ini antara lain dianggapnya kurang efisiennya waktu yang digunakan untuk merokok karena rokok terlalu panjang ataupun karena sulitnya mencari penghasilan karena ekonomi negara yang belum stabil.
Perbaikan sistem, sarana dan prasana sekolah terutama untuk wilyah tertinggal sangat diharapkan guna pemerataan hak pendidikan setiap anak bangsa. Contoh kecil dari kurang ratanya kualitas pendidikan di Indonesia adalah seperti yang terjadi di Pulau Sulawesi  dimana para anak bangsa yang tumbuh disana tidak dapat menikmati bangku sekolah seperti anak-anak yang ada di kota-kota besar. Mereka hanya dapat belajar membaca dan menulis saja tanpa tahu ilmu umum yang lain. menurut mereka, memang pemerintah telah membantu rakyat miskin tapi pemerintah masih membatu rakyat miskin yang tingkatannya masih berada di atas mereka. Di sisi lain sistem pemerintahan Indonesia juga masih harus diperbaiki karena mafia kejahatan atas uang rakyat, tak hanya ada di tingkat pusat namun tingkat daerah pun kini tlah merajalela. Dari kepala desapun memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan praktek terlarang ini.
Jika dengan lahirnya pemimpin dan kabinet baru ini. Sistem pemerintahan bisa diperbaiki walau mungkin tak bisa sesempurna yang diharapkan namun paling tidak dana yang telah mengalir dari pusat dapat tersalurkan dengan baik tanpa adanya pungutan liar sebagai komisi untuk pejabat negara pribadi. Dan hal yang paling mendukung untuk pemberantasan keberlangsungan praktek ini dengan baik adalah Hukum yang tidak pandang siapa anda dan apa jabatan anda atau dengan kata lain hukum yang tak pandang bulu kini sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa yang sedang terpuruk akibat permainan para pejabat yang tak bisa menjalankan amanahnya dengan baik.
Dan kini kita sebagai warga Indonesia yang ingin perbaikan dan kemajuan atas Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sedang mencoba menaruh harapan baru terhadap presiden dan kabinetnnya untuk indonesia yang baru untuk lima tahun mendatang dengan menjadi macan Asia dalam bidang ekonomi, memilki kualitas pendidik yang baik dan merata di berbagai daerah Indonesia hingga pelosoknya, serta sistem Hukum yang tak mengenal pangkat untuk generasi Indonesia di masa depan yang lebih baik, tertib, maju, berpendidikan dan tidak lagi hidup di dalam pusaran hitam kehidupan.

Pendidikan yang Tepat untuk generasi hebat



Miris mungkin adalah kata yang pantas mengungkapkan keadaan moral sebagian personal yang ada di negara kita. Entah mulai dari pejabat yang mengambil hak rakyat hingga masyarakat kalangan bawah yang juga tak mau ketinggalan mengambil bagian walau hanya sekedar mengambil hasil dari hutan yang notabene tanah milik negara karena mereka selalu berfikir kalau saya tak juga mengambil nanti saya dapat apa. Lalu bila semua orang berfikir dengan fikiran yang sekerdil ini, maka kapan Indonesia akan menjadi ‘macan Asia’ yang selalu dicanangkan?. Masalah yang pelik memang selalu tersuguhkan kepada para pemimpin kita tiap tahunnya yang dimana hingga saat inipun belum kunjung terjawab. Lalu Siapa yang bisa disalahkan atas hal ini?
Sebenarnya sekolah adalah tempat mendidik anak secara akademik dan non akademik yang efektif untuk sejauh ini. Walau dengan masalah kurikulum yang selalu berganti dengan seiring bergantinya Mentri Pendidikan Indonesia. Lalu apa yang salah dengan negara ini?
Banyak yang melupakan tentang al-ummu al-madrasah al-uulaa(ibu adalah sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Pendidikan yang salah dari seorang ibu, dapat mengakibatkan salah pola pikir dan tingkah laku seorang anak. Karena suatu bangsa akan rusak bila wanitanya telah rusak. Contoh perbuatan yang baik dapat dari seorang ibu itu adalah aplikasi yang nyata bagi seorang anak yang menurut mereka patut ditiru karena kebanyakan anak akan lebih melihat apa yang dia lihat dari orang tua daripada apa yang orangtuanya katakan.
Pendidikan agama dasar yang benar dan kuat dapat menjadi pondasi yang kuat bagi anak untuk menghadapi kehidupannya untuk dimasa yang akan datang. Karena salah satu faktor seorang anak akan mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhannya itu berawal dari kebiasaan. Walau seorang anak diawalnya tak mengerti apa yang dilakukannya. Bila dengan berjalannya waktu dilakukan pendampingan yang tepat maka akan dapat menjadikan anak dapat mengambil tindakan dalam koridor agama yang dianutnya dalam menghadpi masalahnya karena dia telah terbiasa dengan apa yang diajarka oleh agamanya.
Tak berhenti disitu saja, anak juga harus diajarkan berani berkata TIDAK untuk hal-hal yang berbau negatif. Karena segala yang diusahakan orang tua akan menjadi sia-sia bila anak tak diajarakan untuk hal yang satu ini. Percuma bila seorang anak mempunyai seorang figur ibu atau ayah yang baik serta pondasi agama yang kuat bila dia tak berani berkata TIDAK. Lihat saja kasus yang sedang terjadi sekarang ini yaitu kasus korupsi yang dilakukan oleh calon KAPOLRI kita. Mungkin dia tahu kalau itu salah namun dia tak berani berkata TIDAK terhadap apa yang menurutnya salah. Lalu kasus narkoba yang selalu marak di negri ini, itu juga karena anak tidak berani berkata tidak terhadap apa yang sebernarnya dia anggap salah.
Maka dari itu kerjasama antara sistem pendidikan rumah dan sekolah yang tepat dapat memberikan kesempatan perilaku yang bermoral dan berakhlak bagi setiap anak. Perlu adanya kesadaran dari keluarga sebagai pihak yang melaksankan dan pemerintah sebagai pihak yang memfasilitasinya. Agar terlahir para pejabat yang bermoral dan berakhlak di masa yang akan datang.
Oleh Yulian Catur Rini

Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Wednesday, 18 January 2017

(Bisakah) Membangun Generasi yang Cerdas dan Beridentitas?


Apa lagi ini? Diskriminasi bentuk apalagi ini? Mungkin salah satu ekspresi kalimat yang lumrah atas sebuah perubahan baru dan perlakuan yang ‘terlihat’ tak setara atas suatu kedudukan yang ‘terlihat’ sama. Namum semua itu bukan masanya lagi jalan di tempat dan meratap atas sebuah perubahan yang mungkin hanya karena kita belum terbiasa. Kini hanya perlu melangkah walau dengan langkah-langkah kecil agar selalu berjalan dengan raihan-raihan  emas yang tak kasat mata untuk masa depan.
Bagiku ini pemberian sebuah identitas pada seorang anak yang baru terlahir walau ‘sedikit’ terlambat. Mungkin kita bisa melihat ke masa lalu, bukankah dulu saat Gontor Purti berdiri dia tak serta merta mendapatkan dengan kekhasannya yaitu kerudung putih dengan design elegannya? Dia melalui proses trial and errornya. Menurut cerita, dulu mereka pernah menggunakan kerudung berwarna-warni lalu setelah itu hanya warna tertentu yang diperbolehkan hingga akhirnya dia mulai menemukan corak yang menurutnya pas untuk digunakan menjadi sebuah identitas.
Hingga lahir anak perempuan yang baru yang juga lahir dari ibu yang sama dalam tingkat perguruan tingginya dengan gelar ‘full time student’nya. Sistem dan pergerakan yang terus dibentuk serta pencarian sesuatu yang disebut sebagai sebuah identitas atau tanda pengenal terus digali. UNIDA Kampus Putri pun telah melalui apa yang namanya trial and errornya. Menurut pengalaman, saat ditahun pertama kami pernah mendapat kerudung krem namun belum standart namun setelah melalui diskusi panjang akhirnya kami kembali ‘meminjam’ identitas saudara sekandung kami. Setelah itu ada masa dimana kami menunggu identitas kami muncul hingga akhirnya pin berlambang unida pun muncul dan berakhir setelah identitas baru kami lahir.
Banyak pertanyaan yang muncul, kenapa mereka tidak berganti juga? Apa identitas mereka yang jau disana dengan gelar sama yang disandangnya dengan kami? Aku mencari-cari dan bertanya pada diri sendiri banyak sangkalan dan pembetulan yang muncul dan berkecamuk bahkan hingga masuk ke dalam mimpi (hahaha maaf alay tapi nyata). Jawaban-jawaban yang mungkin terkadang terlihat mengada-ada, jawaban dari karena mereka masih terikat sampai pada tempat main yang berbeda muncul ada ‘dugaan’ atas jawaban.
Namun sudahlah terlalu indah kehidupan ini bila dilihat ‘hanya’ dalam satu sisi saja. Kini kita sudah beridentitas, lalu bisakah kita menjadi generasi yang cerdas? Ini bukan tentang angkatan tapi ini tentang apa yang akan kita sandang dan labelkan pada kehidupan kampus kita. Jika kita ingin menjadi sebuah kebanggaan maka kita harus bisa membangun kebiasaan/adat yang baik, mengatur seluruh langkah kita dan meminimalisir adat yang buruk dengan mengadakan kegiatan bersifat kebersamaan agar seluruhnya dalam rel yang sama dan untuk meminimalisir orang-orang yang keluar rel. Kita hidup dalam suatu rumah yang setiap harinya ada kereta lewat namun kita akan tetap tidur dengan tenang walau kereta lewat karena kita tahu kereta itu ada lintasannya.  

Maka jangan sampai menjadi generasi yang turun kualitasnya karena pola pikir pragmatis. Jangan menjadi generasi suka mengeluh yang selalu merasa paling terjatuh. Jangan jadi generasi yang bertindak tanpa sebuah analisa. Bila ada yang menjatuhkan maka bangkitlah. Bila ada yang mencela cernalah dan analisalah pasti akan membuat kita lebih dewasa dalam berpikir. Bukankah seorang mahasiswi itu belajar dalam taraf analisa? Bukankah seorang mahasiswi itu bisa menjabarkan yang pendek dan meringkas yang panjang? Maka jika mereka tak menjelaskan maka cari jawaban dalam diri atau sekitar karena pasti ada jawabnnya dalam diri dan sekitar kita namun terkadang kita pura-pura tak mengenal saat jawaban itu bertandang. Maka jadilah mahasiswi yang terus berkarya dan meneliti karena dengan meneliti, lahirlah karya pengabdian, dan bermunculanlah tunas tunas baru ilmu pengetahuan dan maka jadilah ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama. Serta ingat setiap pundak kita, kita membawaa nama kita, almamater, bangsa dan agama kita.
#wallahua'lambishowab#ussikumwaiyyayanafsi

Monday, 2 January 2017

Kenapa? (Menelaah kembali 1)

Dalam dunia ku dan dunia mu yang bernama dunia pesantren mungkin terdapat banyak hal yang tak dapat terdefinisikan dan sulit untuk diterjemahkan. Karena kalangan yang pernah menginjak dunia pesantren saja terkadang masih minim pemahaman apalagi untuk kalangan umum. Namun begitulah dunia kita, penuh dengan hikmah yang tak kasat mata. Melihat dari hal kecil dan pertama kali aku selalu pertanyakan saat menginjak dunia itu di instansi tertentu. Terkadang aku sendiri bertanya, kenapa kata ‘keadilan’ tidak ada dalam sintesa pondok? Kenapa dia tidak ada di dalam panca jiwa? Lalu kalau kita mau memandang lebih luas lagi, kenapa dalam pancasila keadilan dinomor akhirkan, kenapa tidak ditengah atau dinomor awal? Banyak pertanyaan yang muncul dan itu semua pernah muncul dalam benakku sendiri karena saat itu aku belum memiliki kapasitas untuk memahami, aku masih belum bisa tuk mengerti dan pasti saat itu tak mengetahui proses yang telah dijalani untuk mencapai pada titik itu. Aku disaat itu hanya seorang yang buta, hanya bermodal lilin kecil yang mungkin saja lilin kecil itu bisa membakar diriku sendiri sewaktu-waktu. Aku disaat itu hanya seorang yang memiliki pemikiran praktis dan realistis dengan zaman yang pernah aku jalani. Namun akhirnya jawaban itu datang saat Pekan Perkenalan Khutbat-l-‘Arsy yang ada di setiap awal tahun.
Saat aku menginjak bangku perkuliahan saat ada orang yang bertanya dengan yang sama atas apa yang aku pertanyakan dulu, tiba-tiba teringat kalimat,” Quis custodiet ipsos custodes? siapa yang mengawasi pengawas?” dari novel Digital Fotress yang pertama kali aku baca saat duduk dibangku sekolah menengah. Ternyata bermakna dalam dan dapat menimbulkan berbagai pertanyaan bagi beberapa orang yang belum memahami maknanya tapi aku tak menyalahkan orang yang belum paham itu. Dilema memang mengingat kalimat bahwa tak ada manusia yang sempurna. Namun semua itu kembali pada kesadaran setiap manusia karena hidup layaknya mengayuh sepeda kalau kita berhenti maka akan jatuh. Semua manusia memiliki pertanggungjawaban kehidupan dan memiliki catatan baik-buruk, hitam-putih dan sebagainya. Lantas sampai kapan dan bagaimana seorang pengawas harus diawasi? Tentunya seorang pengawas diawasi dengan aturan Allah sang pemilik alam ini yang Maha Adil.
Lalu bagaimana saat kita ingin melihat keadilan yang nyata? Mari kita menelaah kembali apa makna adil itu sendiri (lihat http://caturrinihistories.blogspot.co.id/2016/03/mencoba-mencari-makna-adil.html)
Lalu saat kita sudah mengetahui makna adil (baca:hak) lantas sudah sejauh manakah kita menjalankan kewajiban?  Lantas saat kita sudah mulai bertanya, apakah orang lain telah melakukan hal yang sama, apakah kita sudah bertanya pada diri kita kebaikan yang kita lakukan sebenarnya untuk siapa? Untuk orang lainkah atau untuk diri sendirikah atau mungkin untuk kepentingan bersama? Lantas apakah harus menunggu sempurna untuk mengingatkan sesama? apakah orang yang mempunyai banyak dosa, lantas gugur sudah kewajibannya untuk menasehati orang? Insya' Allah tidak karena mengingkatkan sesama adalah kewajiban dari setiap saudara seiman.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).


Kita mungkin pernah mengalami fase merasa paling sengsara yang mana hingga terkadang kita lupa bersyukur dan hanya melihat kehidupan dari satu sisi saja. Padahal dunia ini terlalu indah untuk hanya dilihat dari satu sisi. Maka saudariku sebaiknya kita mulailah berhati-hati dalam menerka sebuah kalimat. Mulailah menganalisa dan bertanya pada hati kecil kita agar kita tak tersesat karena ego yang menguasai akal sehat dan nafsu belaka. Mungkin kesadaran perlu dihidupkan karena ada hal yang dilakukan demi maslahah (kebersamaan) yang mana sebuah maslahah itu adalah hal yang sangat mahal dan tak terbeli.

Wednesday, 16 March 2016

Mencoba Mencari Makna Adil

Lebaran itu.. moment yang selalu aku tunggu. Moment yang semua keluarga berkumpul, safari ke tempat tetangga bareng-bareng. Hampir lengkap semuanya  kecuali satu, kakak laki-laki ku yang dulu hobinya tidur diwaktu yang tidak tepat tapi untunglah sekarang sudah sembuh dia dan aku lebih suka dia yang sekarang.
Beberapa tahun yang lalu, mungkin saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku menemukan satu pelajaran yang ‘selalu’ tersirat dalam keluargaku. Saat tetangga yang juga saudara (ah sepertinya semua tetanggaku masih terhitung saudara dengan silsilah dan tingkatan masing) memberiku uang kertas bergambar Soekarno-Hatta sambil berkata “dibagi sama kakaknya ya” dan aku hanya iya iya saja.
Saat di jalan aku membuka percakapan
A: “mbak aku dapet uang 100 tadi ntar separo-separo ya biar adil”.
K: “adil itu berapa-berapa berarti?”
A: “50 50 lah berarti”
K: “ gak adillah”
A: “lah yang namanya adil itu harus sama kan?”
K: “ hahah, sepertinya kurang tepat kalo definisi adil itu sama, adil itu sesuai dengan kebutuhan. Sekarang kebutuhan yang gede sama yang kecil banyakkan mana? Yang gede kan? jadi ibaratnya pembagian itu adilnya 70 30 lah”
Aku hanya diam gak punya kata. Padahal biasanya gak abis akal aku buat ngejawab omongan siapapun yang menurutku kurang tepat atau kurang masuk akal bagiku. Tapi saat itu aku hanya diam dan selalu aku merenungi dan menelisik kata yang terlontar karena pasti ada maksud tersiratnya. Sudah terlalu biasa mengais sendiri hikmah dalam sebuah kalimat karena mungkin memang tak ada moment yang dimana kita duduk bersama secara lengkap dan mengobrolkan hal-hal yang terkadang sering dibahas tetang keluarga seperti tempat sekolah lanjutan, keadaan sekolah atau lingkungan dan lainnya. Orang tua selau menyerahkan penuh pada anak-anaknya dengan meninggalkan beberapa saran untuk masuk kedalam kategori layak direnungi.
Hingga aku kini kembali kedalam definisi adil yang selalu menjadi sesuatu kata dengan seribu makna tak ada yang tahu pasti. Tapi lumayan masuk akal bagiku walau mungkin kisah itu akan membuat orang mengernyit dan berkata “ah itu akal-akalan seorang kakak kepada adiknya. Namun kini aku sedikit menerka, bila definisi adil itu harus sama, maka mungkin Tuhan tak adil karena manusia tidak semua bahagia, tidak semua manusia kaya, tidak semua manusia pintar.
Karena hasil terka dan pertapaan makna ‘adil’ itu. Bahwa semua ada kadarnya tapi mungkin perlu catatan bila kita berbincang soal hukum khususnya agama karena kadar mereka telah ada dan tertulis jelas dalam setiap buku panduan kehidupan.

 #wallahu'alambishowab

Sunday, 3 January 2016

Anak Asrama, ½ Asrama-Kost dan Kost (Versi Cewek)



Tiga tipe anak kuliahan yang ada di Indonesia sekarang ini, mereka memiliki gelar yang sama ‘Mahasiswa’ tapi gaya hidup mereka beragam sesuai dengan gelar yang disandang oleh mereka ada yang anak asrama, ½ Asrama-Kost dan Kost. Banyak keunikan dan cerita masing-masing dari ketiga tipe ini yang bukan cuman saya yang menyadari itu bahkan yang lain pun telah menyadarinya mungkin lebih dulu dari saya. Tiga tipe yang mungkin berbeda tapi mungkin juga sama.

Anak asrama dan ½ asrama-kost yang hidup dalam sebuah lingkungan asrama yang ada peraturannya membuat mereka mau tidak mau harus mengikuti aturan main asrama dan para pengurusnya. Hingga kadang kata ‘suka banget ngurus hidup orang’ itu terlontar untuk sang kakak yang mau menyisihkan waktu dan fikirannya walau barang sebentar untuk memikirkan kebaikan mereka. Sebenarnya sih para kakak itu tak terlalu banyak harapan hanya satu keinginan untuk kemaslahatan bersama, yaitu peraturan yang ada berjalan dengan ritme yang seimbang untuk bersama sehingga kehidupan yang ada dalam asrama akan lebih damai dalam kebersamaan bila mungkin dibandingkan dengan anak kost yang mungkin mereka bisa hidup sendiri tanpa ada senggolan yang berarti dari teman yang berinteraksi selama 24 jam dengannya. Tapi walau anak asrama dan ½ asrama kost ini sama-sama tinggal di asrama, namun peraturan dalam hal keluar asrama mereka masih berbeda. Anak asrama ingin kemana saja mereka harus melakukan ritul yang namanya izin ke pengurus yang berwenang sedang untuk anak ½ asrama-kost mereka ingin kemana saja silahkan asal pada waktu yang ditentukan mereka ada di asrama. Nah beda lagi kalau dengan anak kost yang apalagi kostannya tak pakai ibu kost. Maka saat itu hanya hati yang bisa mengukur kapan jam mereka pulang ke persinggahan.

Beda lagi kalau soal makan, diantara ketiganya ini mempunyai level kesulitan masing-masing untuk mendapatkan si putih berkarbohidrat ini. Kalau anak asrama sih sudah terhidang di atas meja dengan efek berkilau-kilau hasil karya si mbok e. Bahkan baru buka mata aja sudah bisa langsung santap. Tapi tetap dengan sedikit perjuangan yaitu jalan dari kamar ke tempat makan. Hal ini bisa saja anugerah terindah sebagai anak rantau tapi juga mungkin musibah karena akhirnya lebih banyak dari mereka yang notabene sebagai anak rantau tak bisa dalam hal masak memasak. Level kesulitan anak ½ asrama-kost untuk mendapat si putih berkarbohidrat adalah dia harus berjalan ke kantin asrama, memesan makanan lalu ngerogoh kocek untuk bayar makanan yang di pesan tadi. Sebenarnya hampir sama dengan anak asrama, tapi kalau anak asrama makan untuk setiap harinya sudah di bayar per bulan hingga uang yang ada dalam saku itu hanya jatah uang jajan dan uang printer. Kalau anak kost apalagi kostannya tidak ditemukan warung terdekat, terkadang sarapan saja bisa dijamak dengan makan siang dan disesuaikan dengan jadwal kuliah jadi bisa sekalian kuliah dan makan. Salut dengan anak kost yang bisa hemat-hemat dalam makan dan jajan. Pemikiran yang sangat ekonomis walau terkadang ada yang sampai harus lipat perut untuk itu.

Kalau masalah barang-barang jang ditanya lagi untuk anak asrama dan ½ asrama-kost. Kita tak punya suatu barang yang ‘kadang-kadang’ kita butuh, it’s ok masih ada teman samping lemari yang siap membantu. Tapi bukan maksud untuk memanfaatkan barang punya temen yang ada. Hanya menggunakan yang ada bersama dengan tanggungjawab pastinya. Beda lagi kalau anak kost, terkadang harus punya sendiri dengan barang yang kita butuhkan, teman samping kamar terkadang tak banyak membantu karena mempunyai kesibukan yang lain karena mungkin teman samping kamar bukan teman satu perguruan tinggi.

Apapun tipe kita sebagai mahasiswa dan dimanapun kita menuntut ilmu semuanya pasti memiliki kelebihan ada kekurangan yang kadang terungkap dan kadang banyak yang tak terungkap. Hanya satu yang pasti yaitu mensyukuri apa yang telah diberikan oleh-Nya. Bukan hanya saat kita sedang bahagia tapi juga saat kita dalam kesulitan. Karena Dia selalu ada untuk hamba-Nya kapanpun itu saat seorang hamba membutuhkan.




Tuesday, 11 August 2015

Mahasantri

Mahasiswa adalah gelar elite yang ada dalam sosio-kultural yang ada di masyarakat. Dengan kata ‘Maha’ sesungguhnya dia telah ‘meminjam’ sebagian nama Tuhan. Dengan berbagai pelajaran yang di anggap oleh masyarakat yaitu sebagai ilmu langit yang belum diterjemahkan dalam masyarakat yang dimana seharusnya pemikiran seorang mahasiswa ini bukanlah pikiran hanya biasa-biasa saja. Karena mereka telah menjadi salah satu mutiara ilmu untuk Indonesia.
Dengan semakin berjalannya waktu kini juga berkembang istilah baru bagi para calon  mutiara ini, yaitu istilah ‘Mahasantri’. Lalu apa itu mahasantri? Mahasantri adalah seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah seperti biasanya namun dia juga tinggal di satu asrama dengan peraturan yang ada dan berdasarkan atas agama islam yang kuat. Mungkin hampir sama namun seorang mahasantri ini sesuatu hal yang istimewa apalagi di zaman sekarang ini dengan adanya berbagai pilihan atas kegermelapan dunia. Sehingga seseorang yang memilih atau yang dipilih menjadi mahasantri adalah mutiara islam yang siap untuk menegakkan agamaNya dimanapun mereka berpijak.
Seorang mahasantri harus mempunyai pola pikir yang lebih sistematis dibandingkan sebelumnya karena mereka tak lagi berada di bangku sekolah menengah ataupun KMI. Dengan aktif dalam berorganisasi, kegiatan non akademik seperti ikut serta dalam UKM yang ada di kampus. Mereka dapat mengembangkan olah pikir, olah dzikir, olah raga dan olah rasa mereka yang ditambah dengan adanya sistem asrama membuat mereka lebih leluasa dalam waktu untuk pelaksanaan seluruh kegiatan yang ada.
Dan kelebihan lain dari seorang mahasantri adalah dengan adanya peraturan asrama yang bertujuan tidak untuk mengekang mereka sehingga mereka dapat hidup dalam ritme yang indah dalam suasana islami. Ibaratnya seperti mawar yang berduri, dia indah karena ada durinya. Maka sama saja saat seorang mahasantri mentaati peraturan karena peraturan itu yang memperindah para mahasantri untuk kehidupan mereka. Serta disisi lain memberikan ketenangan terhadap para wali mahasantri ini atas jihad mereka dalam tholabul ilmi di tingkat perguruan tinggi.

Maka dari itu selayaknya jika kita menjadi seorang mahasantri suatu hal wajib kita syukuri karena kelebihan-kelebihannya yang terkadang tak dapat terdefinisikan. Yang dimana belum tentu orang biasa rasakan karena seorang mahasantri itu mutiara yang paling indah diantara mutiara. Masa yang indah itu masa saat kita menuntut ilmu apalagi saat itu kita merasakannya di Gontor. 

Thursday, 28 May 2015

Bersama Untuk Bangsa

Masih pantaskah kita sebagai generasi bangsa tidak keras terhadap diri kita? bukankah hidup ini tak hanya bercerita tentang keindahan dan kegermelapannya?  Miris, mungkin itu yang sedang dialami oleh bangsa kita yang tercinta ini. Ditengah semaraknya berita tentang beras plastik, susu detergen dan yang lainnya. Ada satu lagi berita yang tak bisa kita lupakan. Apalagi kalau bukan tentang pengumuman kelulusan entah itu tingkat SMA, SMP dan SD. Mungkin tak semua yang melakukan beberapa keadaan yang memalukan tapi seperti pepatah lama berkata karena nila setitik rusak susu sebelanga. Entah ini kagum, takjub atau bagaimana, saat melihat foto-foto para pemuda dengan seragamnya yang penuh dengan coretan seni itu. Mungkin itu sudah biasa ditingkat SMA atau SMP tapi kalau masih ditingkat SD? Mungkin sekarang ada dari mereka yang harus dewasa sebelum waktunya. Karena bila tidak seperti mereka akan dikatai kudet,katrok atau sejenisnya. Bukan hanya sampai disitu, sekarang juga marak yang namanya jones yah tau sendirilah itu apaan. Hal yang aneh memang saat anak sekarang tak punya pacar malah dikatain. Bukankah itu hal yang wajar? wajar bagi umuran seorang penimba ilmu.
Mungkin zaman memang telah menemui masa keemasannya dengan penuh kecanggihannya. Tapi jika kita terus hanya menjadi penikmat atas semua teknologi itu maka kapan kita akan maju? sedang bila ada karya anak bangsa terkadang mendapat cibiran. Lalu apakah kita hanya akan menunggu sistem yang sedang mencari arah tanpa bisa berbuat apa-apa? bukankah perbaikan bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah, tapi kita semuanya dengan perannya masing-masing.
pembangunan bangsa tak akan bersahil bila hanya satu peran yang memainkan tanpa ada yang membantu. maka dari itu kita harus saling bahu-mambahu untuk generasi kita, sebagai generasi pembelajar yang memiliki integritas yang mumpuni.

"Jika pengajaran adalah transfer pengetahuan, pendidikan harus menumbukan kesadaran mengaktifkan pikiran secara merdeka agar kretifitas tumbuh dengan leluasa karena pengekangan hanya melahirkan pembungkaman dan kemandiran disalah arti dengan ketundukan. Generasi pembelajar adalah generasi yang tak saja mendapat pengetahuan namun juga pemahaman, generasi ini lebih baik belajar mengerti agar lebih bijak pula memahami, menjadi pribadi dengan pikiran penuh keterbukaan bukan penghafal diktat yang sekedar taat, terus belajar dan mencari selagi muda tidak hanya ikut dengan cuma-cuma dan tanpa bertanya, jangan takut salah dan berbuat alpa sebab dari situ para pembelajar bisa dewasa, karena hidup adalah rangkaian tanya demi tanya dan generasi pembelajar selalu berusaha mencari jawabannya"


Monday, 19 January 2015

Buah Simalakama Dunia Pendidikan Indonesia



Tuntutlah ilmu sampai negri cina,mungkin itu pepatah kuno yang telah mulai menjamur di telinga masyarakat. Tak sedikit dari mereka yang menafsirkannya dengan salah. Kini sekolah jauh dari rumah sudah menjadi tren dalam kalangan masyarakat. Tak sedikit saat mereka ditanya alasan mereka untuk tidak sekolah di daerah asalnya salah satunya alasan yang sangat kompleks yaitu karena tak ada sekolah yang berkualitas di tempatnya atau mungkin alasan yang agak mengada-ada yaitu ‘gengsi’ bila tak sekolah jauh dari rumah. Mungkin mereka berhak mempunyai alasan yang menurut mereka benar tapi parahnya dari suatu kenyataan yang bangsa kita alami adalah tak sedikit dari instansi pendidikan yang memiliki mutu yang terbaik adalah instansi yang di kelola oleh swasta atau cabang sekolah milik luar negri.
Sungguh tragis realita keadaan dunia pendidikan Indonesia dan pemikiran-pemikiran autis yang berkembang di kalangan masyarat kita. Disisi lain perkembangan mutu sekolah-sekolah yang ada di indonesia belum menemukan titik terang hingga saat ini walau telah mengalami perubahan-perubahan kurikulum yang sering dilakukan dengan seiring bergantinya pemerintahan. Herliyati menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka dalam pendidikan dikenal beberapa masa pemberlakuan kurikulum yaitu kurikulum sederhana (1947-1964), pembaharuan kurikulum (1968 dan 1975), kurikulum berbasis keterampilan proses (1984 dan 1994), kurikulum berbasis kompetensi (2004 dan 2006), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dan yang terakhir  adalah Kurikulum 2013. Menurut Einser (Bafadal, 2007), Ada lima fungsi evaluasi pendidikan Mendiagnosis, merevisi kurikulum, membandingkan, mengantisipasi kebutuhan pendidikan, dan menentukan apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai. Jadi perevisian kurikulum yang dilakukan untuk mencari standart mutu pendidikan yang layak katanya.
Padahal kurikulum sekolah yang baik dapat menjadi latar belakang pendidikan yang baik pula bagi anak bangsa karena seseorang yang menuntut ilmu diwaktu kecil seperti mengukir di atas batu sedang saat ia mencari ilmu diwaktu besar bagai mengukir di atas air. Sehingga bagi sebagian orang tua yang ingin pendidikan terbaik bagi putranya harus mengirim para  anak bangsa yang berpotensi lebih untuk berhijrah ke negri orang demi mendapat ilmu yang di harapkan dan ironisnya tak sedikit dari mereka yang ‘kecantol’ di negri orang bak kacang lupa kulitnya karena penghargaan lebih yang mereka dapatkan ataupun karena saat dia kembali masyarakat pun enggan mengakui keahliannya hingga akhirnya mereka kembali ke negri orang lagi. Telah banyak cendekiawan yang mengalami seperti itu misalnya mantan presiden RI ke-dua yang tak diterima terlalu baik saat sekembalinya beliau dari jerman padahal negeri tempat beliau berhijrah yaitu pemerintah Jerman sangat menghargai apa yang beliau lakukan dengan kemampuannya di bidang teknologi.
Memang ini semua telah menjadi dilema anak bangsa kita hingga saat ini. Disatu sisi mutu pendidikan dini yang belum bisa menjadi pondasi terbaik hingga harus berpikir jika mereka tetap berdiam di tempat terlalu lama tanpa merubah sistem untuk menjadi sistem yang mumpuni bagi bursa kerja dunia layaknya air yang menggenang lama di suatu kubangan hingga rasanyapun menjadi tidak baik seperti dalam kata-kata mutiara arab ‘innii raaytu wuquufa-l-maaiyufsiduhu# in saala thoba wa in lam yajri lam yatib’ dan disisi lain saat mereka berhijrah entah ke negri nan jauh disana untuk belajar, walau mungkin dengan niatan untuk kembali dan membangun negara. Pengakuan itupun tak kunjung datang bila menggunakan politik bersih tanpa uang dan koneksi yang berbicara.
Entah kapan negri kita akan menemukan masa keemasannya di dalam dunia pendidikan. Kita sebagai pelajar tiang negara harus mulai memikirkan semua itu sedini mungkin agar saat kita berada di posisi mereka yang berkuasa nanti dapat memperbaiki dan membangun negri ini menjadi lebih baik lagi. Harapan itu masih ada selama kita masih mengusahakan harapan-harapan itu terwujud.

Pemeran Di Balik Layar



Tanggal 2 mei adalah hari pendidikan untuk negeri kita tercinta Indonesia. Tapi tetap saja kita masih memiliki tugas yang hingga kini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan kita tercinta. Apalagi kalau bukan kualitas pendidikan yang di bawah rata-rata. Penyebab utama masih terpuruknya dunia pendidikan Indonesia adalah karena terlalu berorientasi terhadap kurikulum yang notabene selalu berganti setiap mentri pendidikannya pun berganti. Percobaan  berbagai model kurikulumpun telah dilaksanakan, dari kurikulum sederhana, kurikulum berbasis kompetensi hingga kurikulum yang kini dipakai yaitu kurikulum 2013 yang lagi-lagi belum menemukan arahnya. Padahal kurikulum atau kualitas pendidikan yang baik adalah sebagai salah satu kunci untuk kemajuan pemikiran para penerus bangsa untuk negara Indonesia yang lebih baik.
Sedang keadaan yang selangkah lebih maju telah dilakukan oleh lembaga pendidikan yang dikelola oleh swasta. Karena mereka mempunyai cara tersendiri untuk memberikan perbaikan pendidikan. Berbagai bentuk lembaga pendidikan yang dikelola swasta adalah Sekolah Dasar Islam hingga  sekolah berbasis Boarding school atau pondok kini lebih diminati oleh para orang tua untuk pendidikan para buah hati mereka terlebih pendidikan bersistem asrama lebih mewarnai dunia pendidikan Indonesia kini.
Gontor, adalah salah jenjang pendidikan yang menerapkan sistem asrama yang memadukan antara sistem pendidikan berbentuk salafiyah dan modern. Dengan membentuk para santrinya dengan disiplin ilmu dan pendidkan serta pendidkan aqidah dan akhlak yang terpuji. Tidak hanya itu Gontor juga menekankan terhadap para santri tentang keikhlasan yang tak dapat dibeli untuk berjihad di jalan Allah.
Model pendidikan Gontor mengedepankan  ‘at tarbiyah ahammu minat ta’lim’ yaitu pendidikan lebih penting dari pada pengajaran maksudnya adalah segala sesuatu yang ada di Gontor mengandung pendidikan dari apa yang kita dengar, lihat dan rasakan adalah pendidikan.
Kiprah Gontor Putri dimulai pada tahun 1990an guna memenuhi desakan masyarakat yang menginginkan adanya Gontor untuk para putri mereka. Kini diumurnya yang mulai mencapai seperempat abad. Gontor putri seperti yang sering diungkapakan oleh Al-Ustad Ahmad Hidayatullah Zarkasyi,MA adalah “Gontor Putri banyak memberi perubahan bagi Indonesia ini dengan melahirkan para pejuang, memberikan pendamping untuk para pejuang dan ibu para pejuang.” Yang di maksud dalam ungkapan tersebut adalah yang pertama menjadi pejuang, para alumni Gontor putri siap dan bisa untuk berada di garis depan dalam perjuangan untuk mengibarkan panji-panji islam bila memang kesempatan itu ada. Yang kedua menjadi pendamping pejuang, para alumnya bisa menjadi pembakar penyemangat bagi pejuang yang berada di garis depan karena dibelakang laki-laki yang sukses pasti ada wanita yang hebat di belakangnya. Yang ketiga  yaitu ibu bagi para pejuang, saat mereka tak bisa menjadi pejuang atau menjadi pendamping pejuang namun mereka siap untuk melahirkan para pejuang dengan pembentukan pendidikan  anak yang mumpuni. Bukan apa adanya, karena pendidikan yanga awal atau dini adalah dari rumah. Bila latar pendidikan yang di berikan dari rumah atau dari orang khususnya dapat dijadikan bekal untuk lika-liku perjalanan hidup sang anak maka dia akan menjadi seorang yang tahan banting terhadap segala keadaan yang mulai tak karuan.
Memang mungkin kebehasilan untuk para santrinya dapat dilihat dengan mata telanjang seperti ketua PP Muhammadiyah, ketua PBNU, mantan mentri agama dan yang lainnya mereka semua adalah sebagian kecil contoh dari jebolan Gontor Putra yang ada di Ponorogo. Namun para santriwati jebolan Gontor Putripun tetap berkiprah dalam mendidik kehidupan peradaban ini melalui jalan yang lain walau tak terlihat dengan kasat mata namun semua itu tetap diperlukan karena mereka ada untuk menjadi pelengkap kesempurnaan bukan untuk menjadi yang sempurna.

Kursi Emas Presiden Harapan



Era baru untuk bangsa Indonesia telah tiba, dengan dilantiknya presiden dan wakil presiden terpilih yaitu Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada tanggal 20 oktober 2014 yang lalu untuk menggantikan presiden yang telah menjabat selama dua kali masa jabatan kepresidenan yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan bergulirnya kursi kepemimpinan yang baru rakyatpun kini banyak menaruh harapan-harapan baru atas perbaikan bangsa Indonesia untuk ke depannya. Karena dengan keadaan ekonomi Indonesia yang semakin menurun terutama dengan turunnya nilai rupiah terhadap dolar hingga hampr dua belas ribu rupiah perdolar Amerika yang sedang terjadi saat ini. Semua itu berimbas kepada ekonomi Indonesia yang semakin berantakan tak karuan. Misalnya salah satu akibat yang terjadi adalah dengan naiknya harga barang elektronik di Indonesia yang dapat mengakibatkan keterbelakangan teknologi atau gaptek (gagap teknologi) khusunya pada masyarakat kalangan menengah ke bawah. Sedang di sisi lain para pengusaha ICT atau Industri Kreatif Teknologi Indonesia berharap agar anjungan bunga bank yang dibebankan kepada mereka mendapatkan keringanan untuk perkembangan usaha mereka dapat berkembang lebih baik dengan bergantinya pemimpin ini. Mereka mengeluhkan sulitnya peminjaman modal kepada pihak bank karena pihak bank menuntut jaminan yang nyata terhadap mereka yang dimana bisnis Industri Kreatif Teknologi sendiri saat ini masih dalam tahap pengembangan.
Terlebih dengan perseteruan politik yang terjadi sebelum pelantikan dilaksanakan diantara dua kubu yaitu kubu Joko Widodo dengan koalisi rampingnya dan Prabowo Subianto dengan koalisi merah putih yang tak habisnya-habisnya menghiasi layar kaca Indonesia sehingga terjadi kejenuhan yang berkepanjangan di kalangan masyarakat. Tak ayal sebagian rakyat Indonesia memiliki pikiran apatis atas masa depan bangsa ini. Namun di sisi lain tak sedikit juga yang masih berharap atas pemerintahan yang baru lahir ini. Penantian rakyat terhadap kabinet Trisakti yang diharapkanpun masih ditunggu walaupun belum kunjung di umumkan karena Joko Widodo dan Jusuf Kalla melibatkan KPK dalam pemilihan Mentrinya. Tapi ada beberapa mentri yang menurut Joko Widodo tidak perlu mengikuti uji kelayakan dengan datang ke Istana Negara “cukup telfon dan meminta kesediaannya saja” kata Joko Widodo saat diwawancarai semua itu dikarenakan dia tlah lama mengenal mereka dan etos kerja yang mereka miliki.
Harapan-harapan itu bak air yang mengalir dengan berbagai cara pengungkapan yang terjadi di media sosial seperti twitter. Seperti halnya kemarin pelantikan Joko Widodo telah menjadi hot topik di jejaring sosial ini. Hingga sekitar 1000 kicauan berisi tentang harapan kepada Joko Widodo dan ucapan terimakasih terhadap presiden Susilo Bambang Yudhoyonopun telah dikicaukan oleh warga negara Indonesia. Beberapa harapan yang terungkapkan antara lain perbaikan ekonomi baik untuk kalangan menengah ke bawah atau pun untuk ekonomi  perindustrian yang mengalami kemerosotan sehingga terjadi PHK masal seperti pada pabrik rokok PT HM Sampoerna, rencananya mereka akan memberhentikan para pegawainya hingga kurang lebih 4900 karyawan. Semua ini dikarenakan ketidak stabilan keuangan perusahaan akibat menurunnya minat para konsumen terhadap konsumsi rokok Sigaret Kretek Tangan atau SKT. Adapun faktor Penurunan yang terjadi pada konsumen ini antara lain dianggapnya kurang efisiennya waktu yang digunakan untuk merokok karena rokok terlalu panjang ataupun karena sulitnya mencari penghasilan karena ekonomi negara yang belum stabil.
Perbaikan sistem, sarana dan prasana sekolah terutama untuk wilyah tertinggal sangat diharapkan guna pemerataan hak pendidikan setiap anak bangsa. Contoh kecil dari kurang ratanya kualitas pendidikan di Indonesia adalah seperti yang terjadi di Pulau Sulawesi  dimana para anak bangsa yang tumbuh disana tidak dapat menikmati bangku sekolah seperti anak-anak yang ada di kota-kota besar. Mereka hanya dapat belajar membaca dan menulis saja tanpa tahu ilmu umum yang lain. menurut mereka, memang pemerintah telah membantu rakyat miskin tapi pemerintah masih membatu rakyat miskin yang tingkatannya masih berada di atas mereka. Di sisi lain sistem pemerintahan Indonesia juga masih harus diperbaiki karena mafia kejahatan atas uang rakyat, tak hanya ada di tingkat pusat namun tingkat daerah pun kini tlah merajalela. Dari kepala desapun memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan praktek terlarang ini.
Jika dengan lahirnya pemimpin dan kabinet baru ini. Sistem pemerintahan bisa diperbaiki walau mungkin tak bisa sesempurna yang diharapkan namun paling tidak dana yang telah mengalir dari pusat dapat tersalurkan dengan baik tanpa adanya pungutan liar sebagai komisi untuk pejabat negara pribadi. Dan hal yang paling mendukung untuk pemberantasan keberlangsungan praktek ini dengan baik adalah Hukum yang tidak pandang siapa anda dan apa jabatan anda atau dengan kata lain hukum yang tak pandang bulu kini sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa yang sedang terpuruk akibat permainan para pejabat yang tak bisa menjalankan amanahnya dengan baik.
Dan kini kita sebagai warga Indonesia yang ingin perbaikan dan kemajuan atas Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sedang mencoba menaruh harapan baru terhadap presiden dan kabinetnnya untuk indonesia yang baru untuk lima tahun mendatang dengan menjadi macan Asia dalam bidang ekonomi, memilki kualitas pendidik yang baik dan merata di berbagai daerah Indonesia hingga pelosoknya, serta sistem Hukum yang tak mengenal pangkat untuk generasi Indonesia di masa depan yang lebih baik, tertib, maju, berpendidikan dan tidak lagi hidup di dalam pusaran hitam kehidupan.

Pendidikan yang Tepat untuk generasi hebat



Miris mungkin adalah kata yang pantas mengungkapkan keadaan moral sebagian personal yang ada di negara kita. Entah mulai dari pejabat yang mengambil hak rakyat hingga masyarakat kalangan bawah yang juga tak mau ketinggalan mengambil bagian walau hanya sekedar mengambil hasil dari hutan yang notabene tanah milik negara karena mereka selalu berfikir kalau saya tak juga mengambil nanti saya dapat apa. Lalu bila semua orang berfikir dengan fikiran yang sekerdil ini, maka kapan Indonesia akan menjadi ‘macan Asia’ yang selalu dicanangkan?. Masalah yang pelik memang selalu tersuguhkan kepada para pemimpin kita tiap tahunnya yang dimana hingga saat inipun belum kunjung terjawab. Lalu Siapa yang bisa disalahkan atas hal ini?
Sebenarnya sekolah adalah tempat mendidik anak secara akademik dan non akademik yang efektif untuk sejauh ini. Walau dengan masalah kurikulum yang selalu berganti dengan seiring bergantinya Mentri Pendidikan Indonesia. Lalu apa yang salah dengan negara ini?
Banyak yang melupakan tentang al-ummu al-madrasah al-uulaa(ibu adalah sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Pendidikan yang salah dari seorang ibu, dapat mengakibatkan salah pola pikir dan tingkah laku seorang anak. Karena suatu bangsa akan rusak bila wanitanya telah rusak. Contoh perbuatan yang baik dapat dari seorang ibu itu adalah aplikasi yang nyata bagi seorang anak yang menurut mereka patut ditiru karena kebanyakan anak akan lebih melihat apa yang dia lihat dari orang tua daripada apa yang orangtuanya katakan.
Pendidikan agama dasar yang benar dan kuat dapat menjadi pondasi yang kuat bagi anak untuk menghadapi kehidupannya untuk dimasa yang akan datang. Karena salah satu faktor seorang anak akan mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhannya itu berawal dari kebiasaan. Walau seorang anak diawalnya tak mengerti apa yang dilakukannya. Bila dengan berjalannya waktu dilakukan pendampingan yang tepat maka akan dapat menjadikan anak dapat mengambil tindakan dalam koridor agama yang dianutnya dalam menghadpi masalahnya karena dia telah terbiasa dengan apa yang diajarka oleh agamanya.
Tak berhenti disitu saja, anak juga harus diajarkan berani berkata TIDAK untuk hal-hal yang berbau negatif. Karena segala yang diusahakan orang tua akan menjadi sia-sia bila anak tak diajarakan untuk hal yang satu ini. Percuma bila seorang anak mempunyai seorang figur ibu atau ayah yang baik serta pondasi agama yang kuat bila dia tak berani berkata TIDAK. Lihat saja kasus yang sedang terjadi sekarang ini yaitu kasus korupsi yang dilakukan oleh calon KAPOLRI kita. Mungkin dia tahu kalau itu salah namun dia tak berani berkata TIDAK terhadap apa yang menurutnya salah. Lalu kasus narkoba yang selalu marak di negri ini, itu juga karena anak tidak berani berkata tidak terhadap apa yang sebernarnya dia anggap salah.
Maka dari itu kerjasama antara sistem pendidikan rumah dan sekolah yang tepat dapat memberikan kesempatan perilaku yang bermoral dan berakhlak bagi setiap anak. Perlu adanya kesadaran dari keluarga sebagai pihak yang melaksankan dan pemerintah sebagai pihak yang memfasilitasinya. Agar terlahir para pejabat yang bermoral dan berakhlak di masa yang akan datang.
Oleh Yulian Catur Rini